Logo Desa

Desa Mojowarno

Kabupaten Rembang
Provinsi Jawa Tengah

Loading

PAKDE MONO

Perayaan

Hari Kebangkitan Nasional

  • Hari
  • Jam
  • Menit
  • Detik
Info
BREAKING News : PAKDE Mono, Solusi pelayanan anda di mana saja. nikmati kemudahan pelayanan desa dengan PAKDE Mono, untuk mengajukan beragam surat penting melalui gawai dan gadget langsung dari rumah. cukup 1 anda sudah terlayani sesuai jam kerja berlaku. BREAKING News : Nikmati Layanan Capil di Desa dengan PECEL LELE, memberikan layanan kependudukan lebih dekat di kantor Pemerintah Desa Mojowarno

Berita Desa

[KBR|Warita Desa] Siang itu, Dudu Duroni petani sayur yang kini menjadi petani kopi, sibuk membersihkan ilalang yang tumbuh di sekitar pohon kopi miliknya. Berbekal cangkul, parang dan gunting, ia merawat tanaman yang kini menjadi sumber pendapatan utamanya itu.

Sudah 3,5 tahun terakhir ia jadi petani kopi. Dulu ia merambah hutan di kaki Gunung Gede Pangrango dan membuka kebun sayur di sana.

"Ketika menjadi petani sayur, kebanyakan ruginya, karena tanah mesti dicangkul. Dan ketika beralih menjadi petani kopi, keuntungan yang didapat bisa lebih dari 50 persen. Di pertanian kopi, ketika panen raya, biaya perawatan lebih murah, karena pemupukan lebih irit, setahun 2 kali saja,” kata Dudu.

Dudu kini bisa menabung, menyicil motor dan berencana menambah luas lahannya.

Keberhasilan serupa dirasakan 100-an petani lainnya di 3 desa di Cianjur, Jawa Barat.

Ini semua berkat pendampingan soal kopi yang mereka dapat dari Negri Kopi Sarongge, sebuah pabrik kopi lokal di sana.

“Lebih jelas, punya harga kontrak, perjanjian dengan petani dari pabrik kopi yang bernama Negeri Kopi. Dihargai Rp8.000 per kilogram untuk buah ceri kopi arabika, sementara robusta, Rp5.000 per kilogram,” kata Dudu.

Petani mendapatkan kebun mereka dari program perhutanan sosial negara. Negri Kopi Sarongge mendampingi petani sayur belajar menanam kopi, mencari bibit yang bagus, menerapkan metode panen yang benar, hingga menampung kopi dari petani.

Inisiator Negri Kopi Sarongge, Tosca Santoso mengatakan, tujuan dari semua pendampingan itu agar petani sejahtera dan hutan di kaki Gunung Gede Pangrango, serta Gunung Geulis, terjaga. 

“Kopi adalah salah satu alternatif, pilihan mereka. Jadi mereka ingin menanam kopi sebagai upaya untuk dapat menambah penghasilan. Tapi juga tanamannnya cocok untuk konservasi. Kopi  itu akarnya bagus dan tidak harus dicabut kalau panen, sehingga dapat menekan tekanan erosi sampai 35 tahun,” kata Tosca.

Kopi yang dipanen lantas diproduksi di pabrik Negri Kopi Sarongge. Enam perempuan tampak memilah biji kopi. Tangan-tangan mereka cekatan memisahkan biji kopi.

“Yang ini udah yang bagusnya. Yang ini yang jeleknya, dipisahin. Kalau jenis arabika mah, bisa dipilah 3 macem. Kalau milah itu kan harus bersih, harus teliti, paling bisa 15-17 kilogram per hari, per orang,” kata Mirah sembari menjelaskan proses sortasi biji kopi.

Mirah adalah ibu rumah tangga biasa. Namun sejak bergabung di Negri Kopi, kini ia punya penghasilan Rp50 ribu rupiah per hari. Dari situ, Mirah ikut menambah penghasilan keluarga dan membantu biaya sekolah anak.

Setelah proses sortasi tuntas dilakukan, biji kopi akan disangrai, digiling, dikemas dan didistribusikan. Sebagian besar pembelinya adalah kedai kopi di Cianjur, Bogor dan Jakarta.

Salah satunya adalah Kedai Basta Coffee Stand di Cianjur. Pemilik kedai, Bambang, menggunakan kopi Sarongge karena tertarik dengan cerita pemberdayaan petani di sana.

“Karena menanam kopi tidak perlu menebang pohon yang sudah ada, sehingga tidak ada resiko longsor. Beda dengan perkebunan lain. Itu yang membuat saya ingin bekerja sama tidak hanya bisnis,” kata Bambang.

“Sudah betul-betul merasakan dari kopi enak, walaupun rasanya pahit, tapi uangnya manis.”

Sejumlah pekerja sedang mensortir kopi di Negri Kopi Sarongge, Cianjur, Jawa Barat. (Foto: KBR/Taufik)

Jumat, 13 Desember 2019

Kaki Gunung Gede Pangrango kini makin rimbun. Petani yang semula merambah hutan dan membuka kebun sayur di sana, sudah turun gunung. Mereka kini bertani kopi, didistribusikan oleh pabrik lokal, Negri Kopi Sarongge. Jurnalis KBR Kurniati berkunjung ke Sarongge di Cianjur, Jawa Barat dan berbincang dengan petani kopi.  

- Pahitnya Kopi Sarongge, Manisnya untuk Petani
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Cianjur- Siang itu, Dudu Duroni petani sayur yang kini menjadi petani kopi, sibuk membersihkan ilalang yang tumbuh di sekitar pohon kopi miliknya. Berbekal cangkul, parang dan gunting, ia merawat tanaman yang kini menjadi sumber
 
pendapatan utamanya itu.

Sudah 3,5 tahun terakhir ia jadi petani kopi. Dulu ia merambah hutan di kaki Gunung Gede Pangrango dan membuka kebun sayur di sana.

"Ketika menjadi petani sayur, kebanyakan ruginya, karena tanah mesti dicangkul. Dan ketika beralih menjadi petani kopi, keuntungan yang didapat bisa lebih dari 50 persen. Di pertanian kopi, ketika panen raya, biaya perawatan lebih murah, karena pemupukan lebih irit, setahun 2 kali saja,” kata Dudu.

Dudu kini bisa menabung, menyicil motor dan berencana menambah luas lahannya.

Keberhasilan serupa dirasakan 100-an petani lainnya di 3 desa di Cianjur, Jawa Barat.

Ini semua berkat pendampingan soal kopi yang mereka dapat dari Negri Kopi Sarongge, sebuah pabrik kopi lokal di sana.

“Lebih jelas, punya harga kontrak, perjanjian dengan petani dari pabrik kopi yang bernama Negeri Kopi. Dihargai Rp8.000 per kilogram untuk buah ceri kopi arabika, sementara robusta, Rp5.000 per kilogram,” kata Dudu.

Petani mendapatkan kebun mereka dari program perhutanan sosial negara. Negri Kopi Sarongge mendampingi petani sayur belajar menanam kopi, mencari bibit yang bagus, menerapkan metode panen yang benar, hingga menampung kopi dari petani.

Inisiator Negri Kopi Sarongge, Tosca Santoso mengatakan, tujuan dari semua pendampingan itu agar petani sejahtera dan hutan di kaki Gunung Gede Pangrango, serta Gunung Geulis, terjaga. 

“Kopi adalah salah satu alternatif, pilihan mereka. Jadi mereka ingin menanam kopi sebagai upaya untuk dapat menambah penghasilan. Tapi juga tanamannnya cocok untuk konservasi. Kopi  itu akarnya bagus dan tidak harus dicabut kalau panen, sehingga dapat menekan tekanan erosi sampai 35 tahun,” kata Tosca.

Kopi yang dipanen lantas diproduksi di pabrik Negri Kopi Sarongge. Enam perempuan tampak memilah biji kopi. Tangan-tangan mereka cekatan memisahkan biji kopi.

“Yang ini udah yang bagusnya. Yang ini yang jeleknya, dipisahin. Kalau jenis arabika mah, bisa dipilah 3 macem. Kalau milah itu kan harus bersih, harus teliti, paling bisa 15-17 kilogram per hari, per orang,” kata Mirah sembari menjelaskan proses sortasi biji kopi.

Mirah adalah ibu rumah tangga biasa. Namun sejak bergabung di Negri Kopi, kini ia punya penghasilan Rp50 ribu rupiah per hari. Dari situ, Mirah ikut menambah penghasilan keluarga dan membantu biaya sekolah anak.

Setelah proses sortasi tuntas dilakukan, biji kopi akan disangrai, digiling, dikemas dan didistribusikan. Sebagian besar pembelinya adalah kedai kopi di Cianjur, Bogor dan Jakarta.

Salah satunya adalah Kedai Basta Coffee Stand di Cianjur. Pemilik kedai, Bambang, menggunakan kopi Sarongge karena tertarik dengan cerita pemberdayaan petani di sana.

“Karena menanam kopi tidak perlu menebang pohon yang sudah ada, sehingga tidak ada resiko longsor. Beda dengan perkebunan lain. Itu yang membuat saya ingin bekerja sama tidak hanya bisnis,” kata Bambang.
Negri Kopi Sarongge punya jargon, cita rasa dari hutan yang terjaga. 

Kualitas kopi Sarongge ini terbukti mendapat skor ke-3 terbaik se-Indonesia dari Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia pada 2019.

Saat ini, Negri Kopi Sarongge memproduksi 6 ton kopi biji mentah dalam setahun.

Negri Kopi mendorong petani untuk mendapatkan akses perhutanan sosial yang lebih luas sekaligus mencari pendanaan di lembaga resmi, bukan tengkulak.

“Kami ingin membangun koperasi petani yang bisa menaungi kepentingan petani untuk produksi yang bagus, dan harga yang bagus,” kata Tosca.

Tosca berharap semakin banyak petani di dekat hutan punya akses lahan yang pasti.

Dengan begitu, struktur pengelolaan tanah di Jawa Barat bisa berubah, sembari membenahi produksi kopi. Dan petani kopi seperti Dudu Duroni bisa terus mengembangkan kebun kopinya.

“Sudah betul-betul merasakan dari kopi enak, walaupun rasanya pahit, tapi uangnya manis,” kata Dudu. 

Audio : https://m.kbrprime.id/saga

Reporter:Kurniati Syahdan
Editor:Friska Kalia

Rubrik Berita ini, adalah hasil kerjasama website desa mojowarno dengan jaringan berita KBR68H Jakarta, yang dipublikasikan secara merata di seluruh Indonesai. Sehingga isi dan konten yang ada, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari KBR68H

Desa

885

Laki-laki

Laki-laki 885 penduduk

876

Perempuan

Perempuan 876 penduduk

1,761

JUMLAH

0

BELUM MENGISI

1,761

TOTAL

TOTAL 1,761 penduduk

SMART INSIGHT

Total

1,761

Jiwa


Data Per 07 Mei 2026
Produktif

70.2%

1,237 Jiwa


Persentase dari total penduduk
Lansia

11.1%

195 Jiwa


Perlu perhatian khusus
Tumbuh

+1

Jiwa (Bulan Ini)


Pertambahan sebesar 1 jiwa

PERKEMBANGAN PENDUDUK (2 BULAN TERAKHIR)

KATEGORI BULAN INI
01 May - 31 May 2026
BULAN LALU
01 Apr - 30 Apr 2026
PERUBAHAN
Kelahiran 0 0 0
Kematian 0 1 (Lihat) -1 ↘
Masuk 1 (Lihat) 3 (Lihat) -2 ↘
Pindah 0 0 0
Total Pertumbuhan +1 +2 -1 ↘

INSIGHT CEPAT

Pertumbuhan penduduk bulan ini tercatat Pertambahan sebesar 1 jiwa, turun 1 jiwa dari bulan lalu.
Terdapat 0 kelahiran baru, menunjukkan regenerasi penduduk yang perlu diperhatikan.
Dominasi usia produktif sebesar 70.2% merupakan potensi besar bagi tenaga kerja lokal dan pengembangan ekonomi desa.
Populasi lansia mencapai 11.1% (195 jiwa), memerlukan perhatian lebih pada program jaminan kesehatan sosial.
Aktivitas administrasi mencatat 1 dokumen pelayanan surat pada bulan ini.

PERKEMBANGAN PENDUDUK

DISTRIBUSI USIA

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

SUMANTO

Tidak Ada di Kantor

Sekretaris Desa

SUMADI

Tidak Ada di Kantor

Kepala Seksi Kesejahteraan

FAHRURROHIM

Tidak Ada di Kantor

Kepala Urusan Keuangan

SUCIATI

Tidak Ada di Kantor

Kepala Seksi Pemerintahan

DEWI SUPRASTININGRUM

Tidak Ada di Kantor

Kepala Seksi Pelayanan

SITI ARFIANA WATI

Tidak Ada di Kantor

Kepala Dusun Cering

AMALIA NUR HIDAYATI

Tidak Ada di Kantor

Kepala Dusun Mojo

SUMARDI

Tidak Ada di Kantor

Kepala Dusun Samben

SUTRISNO

Tidak Ada di Kantor
Cuaca
Gagal menampilkan data.

Sumber : BMKG | Tema DeNava

Informasi Gempa
Gagal menampilkan data.

Sumber : BMKG | Tema DeNava

Statistik Pengunjung
Hari ini : 140
Kemarin : 781
Total Pengunjung : 1.481.453
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.128
Browser : Mozilla 5.0
Tema Pro : DeNava v204.15
Cuaca
Gagal menampilkan data.

Sumber : BMKG | Tema DeNava

Informasi Gempa
Gagal menampilkan data.

Sumber : BMKG | Tema DeNava

Statistik Pengunjung
Hari ini : 140
Kemarin : 781
Total Pengunjung : 1.481.453
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.128
Browser : Mozilla 5.0
Tema Pro : DeNava v204.15

Transparansi Anggaran

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan

Realisasi | Anggaran

Rp. 1.627.626.588,00 Rp. 1.648.277.200,00

99%

Belanja

Realisasi | Anggaran

Rp. 1.604.872.879,00 Rp. 1.649.464.685,00

97%

Pembiayaan

Realisasi | Anggaran

Rp. -179.273.820,00 Rp. -159.271.240,00

0%

APBDes 2025 Pendapatan

Dana Desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 1.053.618.000,00 Rp. 1.053.618.000,00

100%

Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi

Realisasi | Anggaran

Rp. 40.290.800,00 Rp. 40.290.800,00

100%

Alokasi Dana desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 375.744.483,00 Rp. 397.497.000,00

95%

Bantuan Keuangan Provinsi

Realisasi | Anggaran

Rp. 150.000.000,00 Rp. 150.000.000,00

100%

Lain-Lain Pendapatan Desa Yang Sah

Realisasi | Anggaran

Rp. 7.973.305,00 Rp. 6.871.400,00

116%

APBDes 2025 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 480.790.349,00 Rp. 519.829.230,00

92%

Bidang Pelaksanaan Pembangunan desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 939.775.940,00 Rp. 945.309.260,00

99%

Bidang Pembinaan Kemasyarakatan desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 111.550.000,00 Rp. 111.569.505,00

100%

Bidang Pemberdayaan Masyarakat desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 38.534.690,00 Rp. 38.534.790,00

100%

Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak desa

Realisasi | Anggaran

Rp. 34.221.900,00 Rp. 34.221.900,00

100%
Pemerintah Desa

SUMANTO

Kepala Desa


Tidak Ada di Kantor

SUMADI

Sekretaris Desa
Tidak Ada di Kantor

FAHRURROHIM

Kepala Seksi Kesejahteraan
Tidak Ada di Kantor

SUCIATI

Kepala Urusan Keuangan
Tidak Ada di Kantor

DEWI SUPRASTININGRUM

Kepala Seksi Pemerintahan
Tidak Ada di Kantor

SITI ARFIANA WATI

Kepala Seksi Pelayanan
Tidak Ada di Kantor

AMALIA NUR HIDAYATI

Kepala Dusun Cering
Tidak Ada di Kantor

SUMARDI

Kepala Dusun Mojo
Tidak Ada di Kantor

SUTRISNO

Kepala Dusun Samben
Tidak Ada di Kantor